HASIL PERTANDINGAN LIGA INGGRIS | Bolajaya.com – Foto Juara Bao Tailiang dan Seorang Messi

Hasil Pertandingan Liga Inggris
Messi

HASIL PERTANDINGAN LIGA INGGRIS | Bolajaya.com – Foto Juara Bao Tailiang dan Seorang Messi

by1 300x200 HASIL PERTANDINGAN LIGA INGGRIS | Bolajaya.com Foto Juara Bao Tailiang dan Seorang Messi
Messi

HASIL PERTANDINGAN LIGA INGGRIS -Berikut adalah daftar trofi yang pernah bersentuhan dengan tangan Lionel Messi: La Liga, Copa del Rey, Supercopa de Espana, Champions League, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Itu bersama Barcelona saja. Bersama tim nasional Argentina, Messi pernah meraih medali emas Olimpiade 2008 serta menjadi juara di ajang Copa America, dan Piala Dunia U-20.

Sembari mengumpulkan semua prestasi kolektif tersebut, Messi juga berhasil meraih banyak penghargaan individu. Empat Ballon d’Or, yang paling sering disebut-sebut, hanyalah sebagian kecil di antaranya. Namun bergelimang gelar juara dan penghargaan individu ternyata tidak membuat Messi sempurna. Karirnya belum lengkap tanpa gelar juara Piala Dunia.

Semua itu bisa saja berubah di Estadio do Maracana, 13 Juli 2014. Messi, besama tim nasional Argentina, berhadapan dengan tim nasional Jerman. Peluang Messi untuk menyempurnakan diri cukup besar karena sepanjang sejarah, belum pernah ada negara Eropa yang berhasil menjadi juara di Benua Amerika. Dengan kata lain, Messi sudah memiliki modal dukungan sejarah sementara Jerman tidak memilikinya.

Namun, sejarah tak berarti apa-apa hari itu. Satu gol Mario Götze membawa Jerman mencatatkan sejarah baru sebagai negara Eropa pertama yang mampu menjadi juara di Benua Amerika. Messi, walaupun dinobatkan sebagai pemain terbaik di kejuaraan ini, tetap mengalami patah hati. Dan sementara Messi masih berusaha menerima kenyataan, ada seorang fotografer yang melihat kesempatan.

Bao Tailiang, fotografer asal Tiongkok yang bekerja untuk Chengdu Economic Daily, berhasil mengabadikan sebuah momen yang di kemudian hari membuat dirinya terpilih menjadi pemenang di sebuah ajang bergengsi. Foto karya Bao Tailiang – berjudul “The Final Game” – terpilih menjadi foto terbaik di ajang World Press Photo Contest 2015, untuk kategori olahraga.

Mengalami Supernova dan Mati sebagai Lubang Hitam

Ada hasrat yang sangat besar untuk menjadi juara Piala Dunia dalam diri Lionel Messi. Sehingga ketika dirinya harus menerima kenyataan bahwa trofi yang sudah lama ia idam-idamkan tersebut tak akan menjadi miliknya, ada lubang besar yang menganga; yang terlihat jelas dalam The Final Game. Jarak antara Messi dan trofi Piala Dunia, dalam foto tersebut, sangat dekat. Di saat yang bersamaan, keduanya sangat jauh.

Tahan dulu bahasan dari sudut pandang ilmu fotografi. Hasrat Messi untuk menjadi juara dunia dapat dijelaskan lewat ilmu perbintangan; lewat siklus hidup sebuah bintang, tepatnya.

Sebuah bintang, sebuah gumpalan bola gas raksasa, bukanlah benda mati yang selamanya berada di ruang angkasa. Bintang memang bukan organisme, namun mereka memiliki siklus hidup yang garis besarnya kurang lebih seperti ini: lahir, tumbuh, dan mati – dengan cara yang berbeda.

Bintang terbentuk di dalam nebula. Bagaimana bintang hidup dan mati tergantung kepada massa yang mereka miliki. Bintang-bintang bermassa kecil, seperti matahari, tumbuh menjadi bintang merah raksasa dan mati dengan cara menyusut menjadi sebuah bintang katai (secara teknis, bintang katai bukan bintang).

Sementara itu, bintang-bintang bermasa besar tumbuh menjadi bintang merah maharaksasa dan mati dalam sebuah ledakan supernova, yang terangnya menyamai ratusan matahari. Setelah supernova, bintang berubah menjadi bintang neutron (seperti bintang katai, bintangn neutron secara teknis bukan bintang) atau lubang hitam.

Sebagai bintang, Messi dibentuk dalam dan lahir dari Nebula bernama La Masia. Sepanjang hidupnya, Messi terus menerus melatih diri dan tumbuh menjadi seorang megabintang. Hasratnya untuk menjadi yang terbaik semakin hari semakin besar. Puncaknya terjadi di Brasil, 13 Juli 2014. Mengangkat trofi Piala Dunia sebagai kapten tim nasional Argentina adalah prestasi tertinggi yang bisa diraih Messi.

Kehebatan Messi tak akan lagi dipertanyakan dan diragukan jika ia, kapten tim nasional Argentina, mampu meraih gelar juara Piala Dunia di rumah musuh bebuyutan negaranya. Namun Messi ternyata tidak mampu. Ia bersama timnya kalah di tangan Jerman. Supernova.

Kalah di final Piala Dunia membuat Messi menjadi pemberitaan di seluruh dunia. Derasnya pemberitaan ini melebihi hal apapun yang pernah diceritakan mengenai Messi; sebuah ledakan dengan sinar yang terangnya menyamai ratusan matahari.

Setelah mengalami Supernova di Maracana, Messi menjadi lubang hitam. Seperti lubang hitam yang gravitasinya mampu menangkap apapun (apapun, termasuk cahaya), lubang hitam bernama Messi-sang-runner-up-Piala-Dunia menjadi pusat perhatian dunia; jauh lebih menarik ketimbang Messi sebelum dirinya kalah di final Piala Dunia.

Perusuh Bernama Kita

Benar memang, unsur cerita memainkan peran besar dalam The Final Game. “Satu foto, berjuta cerita” bukanlah klise tanpa arti dalam foto ini. Ada satu catatan kecil yang harus diingat: adalah kita, publik, yang membuat hal tersebut lebih hidup. Adalah kita dan pandangan kita mengenai Messi yang membuat unsur cerita yang ada menjadi lebih besar perannya.

Sejak hari pertama kemunculan Messi di muka publik, adalah kita yang membandingkannya dengan Diego Maradona (dan juga di kemudian hari terus menjadikan Messi pesaing utama sekaligus musuh besar Cristiano Ronaldo – padahal belum tentu itu yang dirasakan keduanya) Permainan Messi yang semakin hari semakin menggila tak menghentikan kita. Kita terus menerus menolak melihat Messi sebagai dirinya sendiri; Messi adalah titisan Maradona. Apapun yang ia lakukan akan selalu dihubung-hubungkan dengan Maradona.

Dalam hal A, Messi lebih baik dari Maradona. Untuk urusan B, Messi belum dapat mengalahkan pendahulunya. Begitu saja. Selalu begitu. Perbandingan Messi dan Maradona terus terjadi dan terakumulasi, hingga final Piala Dunia 2014 menjadi puncaknya.

Pada akhirnya, perjuangan Messi untuk menjadi juara Piala Dunia secara tak sadar mengendap dalam ingatan kita sebagai perjuangannya untuk menyamai dan melampaui Maradona, bukan berbakti kepada Argentina.

Endapan ingatan tersebut kemudian membuat momen yang ada dalam The Final Game memiliki efek yang luar biasa. Kondisinya sebenarnya adalah seperti ini: Messi kalah di final Piala Dunia, bersama dua puluh dua pemain Argentina lainnya. Namun endapan dalam ingatan membuat Messi nampak meratapi kegagalan pribadinya; kalah dalam duel satu lawan satu melawan sosok yang berusia 27 tahun lebih tua darinya.

Lebih Hidup dari Zidane

Saya tidak pernah mempelajari, dan karenamya, tidak mengerti teknik-teknik fotografi. Namun mata saya yang awam terhadap seni memotret ini tetap memandang The Final Game sebagai sebuah karya fotografi berkualitas sangat baik. Indah tanpa mengabaikan aturan dan teori.

Nyaris semua kawan yang memahami fotografi, ketika saya mintai pendapat mengenai foto ini, mengatakan bahwa Messi dan trofi Piala Dunia sebagai dua objek utama, tepat berada di tengah sebagaimana seharusnya.

Salah seorang kawan berkata bahwa walaupun bagus tidaknya hasil foto selalu subjektif, The Final Game telah memenuhi aturan 1/3 – aturan yang, oleh kawan saya yang lain, disebut sebagai rule of thirds. Penjelasan sederhananya seperti ini: jika foto ini dibagi menjadi sembilan bagian yang sama besar, Messi dan trofi Piala Dunia sebagai objek utama akan berada tepat di bagian tengah. Dan itu adalah komposisi yang baik.

Semua kawan yang saya mintai pendapat juga berkata bahwa walaupun ada aturan saklek fotografi, semua itu hanya garis pedoman saja. Bagus atau tidaknya foto sangat dipengaruhi oleh kemampuan para fotografer untuk memadu-padankan seni dan aturan.

Seorang kapten tim nasional dan sebuah trofi Piala Dunia yang tak akan menjadi miliknya bukanlah objek asing di dunia fotografi. Pada tahun 2006, muncul beberapa foto berkualitas bagus yang objeknya adalah Zinedine Zidane dan trofi Piala Dunia yang akhirnya menjadi milik Italia.

Namun foto Messi (The Final Game) dan foto Zidane memiliki nilai keindahan yang berbeda. Foto Messi menawarkan lebih banyak cerita. Dan urusan selera (yang jelas selalu berbeda) saja tidak menjelaskannya. Beruntung, salah satu kawan saya mampu menawarkan penjelasan dari sisi teknik fotografi.

Walaupun fokusnya utama dalam The Final Game adalah Messi dan trofi Piala Dunia yang tepat berada di tengah, walaupun siapapun yang melihat foto ini pasti langsung tertuju kepada objek utama dan cenderung mengabaikan objek-objek pendukung di sekelilingnya, objek-objek pendukung tersebut bukannya tidak berguna.

Dengan kata lain, foto ini adalah sebuah kesatuan yang ceritanya sangat hidup. Setiap bagian, di titik manapun mereka berada dan terlepas dari nilai penting mereka yang jelas berbeda, memainkan perannya masing-masing dengan sangat baik. The Final Game, dalam diamnya saja, dapat menyuguhkan banyak cerita.

 

BANDAR BOLA ONLINE BOLAJAYA | Bolajaya.com : SELALU KUNJUNGI KAMI DAN PERCAYAKAN KEPADA KAMI

BolaJaya.com adalah Master agen bola terpercaya, judi online, bandar judi online, agen judi terpercaya, agen sbobet resmi, taruhan bola online,agen togel terpercaya, agen judi casino, agen sbobet casino terpercaya customer service kami siap melayani anda 24 jam penuh. segera bergabung bersama kami  dan nikmati keuntungan yang berlimpah hanya di Bolajaya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*